Teknik Sampling – Penjelasan dan Contoh
8 mins read

Teknik Sampling – Penjelasan dan Contoh


Teknik Pengambilan Sampel – Merupakan bagian integral dari penelitian sosial. Dalam penelitian sosial, tidak mungkin mempelajari seluruh populasi yang diteliti.

Bukan hanya karena jumlahnya yang terlalu banyak, tapi juga karena karakter penduduknya yang selalu dinamis. Oleh karena itu, peneliti menggunakan sampel untuk mengumpulkan data guna menjawab pertanyaan atau permasalahan penelitian.

Sampel adalah sebagian dari populasi. Pada saat pemeriksaan, sampel yang diambil harus representatif. Prosedur pengambilan sampel yang representatif dilakukan dengan perhitungan tertentu.

Pengambilan sampel dengan perhitungan tertentu disebut dengan teknik sampling. Ada dua jenis teknik pengambilan sampel dalam penelitian sosiologi dan dalam penelitian sosial kuantitatif dan kualitatif lainnya.

Pertama, pengambilan sampel berbasis probabilitas. Kedua, teknik pengambilan sampel tidak didasarkan pada probabilitas. Dalam artikel ini saya menjelaskan kedua jenis sampel dan metode pengambilan sampel mana yang termasuk dalam masing-masing jenis.

Untuk mempermudah pemahaman, saya akan menyisipkan contoh sekaligus. Metode pengambilan sampel berbasis probabilitas dalam bahasa Inggris disebut sebagai metode pengambilan sampel probabilitas.

Teknik pengambilan sampel non-probabilistik disebut teknik pengambilan sampel non-probabilistik.

Teknik Pengambilan Sampel Probabilitas (Probability Sampling Technique)

Teknik ini disebut probabilitas karena dalam proses penerimaan terdapat peluang yang sama bagi seseorang untuk menjadi master penelitian.

Setidaknya ada empat jenis teknik yang memungkinkan peneliti menggunakan teknik probabilistik untuk sampel, antara lain:

1. Pengambilan Sampel Acak Sederhana (Acak Sampling)

Teknik pengambilan sampel ini dianggap sebagai teknik dasar dalam statistik. Untuk mengumpulkan sampel secara acak, peneliti memberikan nomor urut pada setiap populasi dengan membuat daftar.

Setiap orang mempunyai nomor yang berbeda-beda. Setelah semua nomor sudah terkumpul. Peneliti mengacak secara acak setiap angka yang muncul. Yang nomornya tertera adalah contoh studio.

Misalnya, seorang peneliti mempunyai daftar 100 orang dalam suatu populasi dan ingin memilih 10 orang sebagai sampel.

Pertama-tama, setiap orang dalam populasi ditandai dengan angka 1-100. Nomor ini kemudian dipilih secara acak.

Pengacakan bisa meniru model social pooling atau sekarang menggunakan aplikasi bilangan acak. 10 orang yang keluar menjadi sampel pemeriksaan.

Teknik ini biasanya digunakan pada populasi yang homogen. Misalkan seseorang ingin mempelajari proses pembelajaran di kelas.

Jumlah siswa seluruhnya 100 orang. Peneliti dapat mewawancarai 10 orang secara rinci sebagai sampel acak.

2. Pengambilan Sampel Sistematis (Sampling Sistematis)

Teknik pengambilan sampel ini dilakukan dengan cara yang sistematis, yaitu dengan proses awal yang acak. Mirip dengan seleksi acak, peneliti awalnya menetapkan nomor untuk seluruh populasi.

Daftar nomor penduduk diurutkan sedemikian rupa sehingga urutan nomor dalam daftar tersebut acak. Setelah pengacakan, sampel diambil untuk setiap penghitungan tertentu, dihitung ulang, dan diambil sampelnya kembali.

Begitu seterusnya hingga jumlah sampel sesuai dengan rencana awal. Misalnya, seorang peneliti ingin meneliti pola konsumsi mahasiswa di jurusan ekonomi sebuah universitas.

Jumlah populasinya adalah 1000 siswa. Peneliti ingin melakukan survei terhadap 100 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada awalnya direncanakan oleh peneliti.

Misalnya sebagai sampel diambil daftar nomor urut dan kelipatan persepuluh (20, 30, 40, dst, sampai dengan 1000) sehingga peneliti membuat daftar acak 1000 nomor urut asli.

Setelah dilakukan pengacakan, mereka melihat kembali yang namanya nomor 10 dan kelipatan sampel.

3. Pengambilan Sampel Berstrata (Multilevel Sampling)

Teknik pengambilan sampel ini juga mirip dengan random sampling. Bedanya, peneliti membagi populasi ke dalam berbagai strata atau tingkatan.

Setelah populasi dibagi menjadi beberapa lapisan, sampel acak dibuat di setiap lapisan atau tingkat. Sampel diambil pada setiap tingkatan dengan jumlah yang proporsional.

Misalnya saja kajian tentang pentingnya agama di kalangan mahasiswa Universitas Hayam Wuruk.

Peneliti melakukan perubahan siswa baru tahun kedua, tahun ketiga, dan tahun lalu yang belajar.

Setiap tingkatan atau bidang diambil secara proporsional dengan cara random sampling. Misalnya jumlah sampel mahasiswa baru sebanyak 100 orang, jumlah sampel mahasiswa lain sama atau hampir 100 orang.

Atau, jika hanya satu siswa dari tahun sebelumnya yang diwawancarai, sampelnya tidak proporsional.

4. Pengambilan Sampel Klaster (Sampling Kluster)

Teknik ini biasanya dipilih jika seluruh daftar populasi tidak tersedia atau jika tidak memungkinkan untuk mengumpulkan daftar populasi untuk diperiksa.

Secara umum, subpopulasi sudah tersedia, kecuali daftar lengkap anggotanya tidak ditinjau. Subpopulasi adalah sebuah cluster.

Misalnya survei tingkat kepercayaan warga PBB dan Muhammadiyah terhadap pernyataan “Borobudur adalah peninggalan Raja Sulaiman”.

Daftar umum warga PBB dan Muhammadiyah tidak tersedia. Hal ini juga tidak mungkin dilakukan.

Oleh karena itu, peneliti memilih organisasi industri NU dan Muhamadiyah sebagai sampel.

Setiap organisasi telah menerima daftar anggotanya. Pengambilan sampel cluster berarti memilih cluster yang tersedia karena tidak ada data untuk keseluruhan populasi.

Teknik Pengambilan Sampel Non-Probabilitas (Non-Probability Sampling)

Teknik ini disebut non-probabilitas, hal ini disebabkan karena proses pengumpulan sampel tidak memberikan kesempatan yang sama bagi setiap individu dalam populasi. Ada empat jenis pengambilan sampel acak tanpa probabilitas, antara lain:

1. Convenience Sampling (Pengambilan Sampel Berdasarkan Ketersediaan Subjek)

Teknik ini digunakan karena peneliti harus mempelajari keberadaan topik penelitian yang sangat dinamis. Peneliti biasanya tidak mempunyai kendali atas besarnya populasi yang diteliti.

Meskipun tidak ada data, namun tidak mungkin untuk menentukan populasi karena sangat dinamis, bervariasi dan fleksibel.

Contoh dari teknik ini adalah menghentikan orang-orang di jalan untuk meminta pendapatnya atau melakukan survei kecil-kecilan. Misalnya saja menelusuri preferensi fashion pengunjung acara Java Jazz akhir tahun ini.

Survei dilakukan selama acara di kalangan pengunjung lokal. Waktu surveinya juga relatif singkat sehingga tidak semuanya bisa dilakukan. Selain itu, jumlah pengunjung juga belum bisa diumumkan karena tidak ada tiket.

Teknik pengambilan sampel ini biasanya dilakukan sebagai studi pendahuluan untuk melengkapi penyelidikan awal yang lebih komprehensif, seperti hubungan antara penikmat musik jazz dan selera fashion.

2. Pengambilan Sampel Bertujuan (Purposive Sampling)

Teknik pengambilan sampel ini didasarkan pada evaluasi pengetahuan peneliti terhadap calon informan/responden dalam menjawab berbagai pertanyaan penelitian.

Perkiraan bahwa informan mempunyai pengetahuan subjektif didasarkan pada pengamatan peneliti.

Pada dasarnya sampel yang digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian adalah orang-orang yang mempunyai pengalaman atau pengetahuan di bidang penelitian.

Misalnya, penyidikan perilaku korupsi polisi lalu lintas. Peneliti menentukan sampel dengan cara memantau seluruh masyarakat yang merasa dirugikan oleh oknum polisi lalu lintas karena tiket dibayar tanpa alasan yang jelas, sulitnya mendapatkan kartu SIM dan lain sebagainya.

Teknik pengambilan sampel ini dikatakan dimaksudkan karena pengambilan sampel dilakukan dengan suatu tujuan.

3. Pengambilan Sampel Bola Salju (Sampling Bola Salju)

Teknik pengambilan sampel ini berguna jika ukuran populasi sulit ditentukan dan topik yang dibicarakan sangat sensitif.

Pengambilan sampel bola salju adalah teknik pengambilan sampel berantai. Pengetahuan informan terhadap informan lain yang potensial untuk diselidiki merupakan suatu pedoman.

Peneliti biasanya sulit menemukan orang yang layak diteliti tanpa adanya informasi dari informan sebelumnya.

Misalnya mengusut imigran gelap di Malaysia atau pengemis di ibu kota. Peneliti biasanya kesulitan mencari orang, namun pendatang atau pengemis mengenal pendatang atau pengemis lain yang termasuk dalam jaringan tersebut.

Informan/responden ini juga mempunyai pengetahuan tentang siapa saja potensi manusia yang ada atau untuk menjadi master penelitian.

Teknik ini dinamakan snowballing, karena bilangan tersebut mula-mula menjadi sesuatu dan pada akhirnya bertambah besar seperti bola salju yang menggelinding.

4. Pengambilan Sampel Kuota (Sampling Kuota)

Teknik pengambilan sampel ini dilakukan dengan memberikan tingkat sampling proporsional pada setiap kategori.

Kategori-kategori ini didasarkan pada pengetahuan sebelumnya tentang karakteristik populasi. Diasumsikan bahwa karakteristik populasi sudah ada sebelumnya.

Misalnya saja kajian tentang persepsi masyarakat Indonesia terhadap kesetaraan gender.

Sampel yang dicari termasuk dalam wilayah nasional yaitu Indonesia. Saat memilih kuota, kategori ditentukan berdasarkan fitur seperti jenis kelamin, tingkat pendidikan, usia, dll.

Peneliti menentukan tinggi badan dengan mengetahui berapa jumlah laki-laki dan berapa jumlah perempuan yang menjadi ciri-cirinya. Pemenang kategori putra dan putri dipilih secara proporsional. Begitu pula pendidikan dan kelompok umur.

Kesimpulannya, kami menemukan ada delapan metode pengambilan sampel yang dapat digunakan dalam penelitian sosial.

Pemilihan teknik yang paling relevan sangat bergantung pada rumusan masalah yang diajukan.

Peneliti harus memastikan bahwa pengambilan sampel yang dilakukan didasarkan pada relevansi dengan pertanyaan penelitian.

Baca Juga:



Contoh Soal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *