Wakil Menteri Ubi Disportir: Kehilangan Legenda Bulu Tangkul Iie Sumirat
3 mins read

Wakil Menteri Ubi Disportir: Kehilangan Legenda Bulu Tangkul Iie Sumirat


Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Wamenpora RI) Taufik Hididesy menyatakan kesedihan yang mendalam atas kepergian legenda bulutangkis, Iie Sumirat. Wamenpora mengunjungi rumah duka di JL. Sukabakti VII No. 60, Sukapura, Kiaracondong, Bandung, pada hari Rabu (7/23) pagi setelah menerima berita sedih dari teman -teman di dunia bulu tangkis. Kehadirannya disambut dengan hangat oleh keluarga almarhum, menunjukkan betapa hebatnya pengaruh Iie Sumirat dalam hidupnya.

Iie Sumirat, yang lahir di Bandung pada 15 November 1950, dikenal sebagai salah satu pelopor bulutangkis Indonesia. Dia adalah sosok yang menempa bakat Taufik Hidayat sejak usia dini, di mana Taufik mulai berlatih di bawah bimbingan IIE ketika dia berusia 9 tahun. “Tanpa dia, aku tidak akan bisa sampai ke titik ini,” kata Taufik mengenang masa kecilnya. Wamenpora menyatakan, IIE bukan hanya pelatih, tetapi juga sosok yang sangat dekat dengan keluarganya, bahkan dianggap sebagai orang tua pengganti.

Kehilangan sosok Iie Sumirat sangat dirasakan oleh Taufik. Dia mengaku bermaksud bertemu dengan IIE selama sakit, tetapi waktu tidak memihak. “Aku menganggap dia menyukai orang tuanya sendiri,” katanya. Taufik mengingat kenangan masa kecilnya, yang sering menghabiskan waktu berlatih untuk tidur di rumah IIE, yang terletak dekat dengan ladang bulu tangkis.

Iie Sumirat tidak hanya dikenal sebagai pelatih, tetapi juga atlet bulutangkis legendaris yang mengukir banyak prestasi untuk Indonesia. Keberhasilannya dalam membawa tim bulutangkis nasional memenangkan gelar Piala Thomas pada tahun 1976 dan 1979 untuk menjadi momentum penting dalam sejarah bulutangkis Indonesia. IIE juga memenangkan Kejuaraan Undangan Asia 1976 di Bangkok, sebuah turnamen yang menyatukan dua kekuatan utama bulutangkis, Indonesia dan Cina.

Pada puncak karirnya, Iie Sumirat mencatat namanya dalam sejarah dengan memenangkan medali perunggu di Kejuaraan Dunia 1977, sebuah tonggak sejarah yang menunjukkan bahwa ia dimasukkan dalam jajaran pemain elit dunia pada waktu itu. Setelah pensiun dari dunia olahraga, IIE fokus sebagai pelatih dan mentor. Di bawah perawatannya, banyak atlet muda berbakat dari Java Barat berhasil muncul, menandakan dedikasinya untuk mencetak generasi berikutnya di Badminton.

Taufik Hidides dalam pernyataannya berharap bahwa semua orang dapat menggunakan waktu yang tersedia secara optimal, menyadari bahwa setiap atlet memiliki batas usia dalam karier. “Semua tidak ada yang abadi,” katanya, menekankan pentingnya memerangi kekuatan untuk masa depan bulu tangkis Indonesia.

Kepergian Iie Sumirat tidak hanya menjadi kerugian bagi Taufik, tetapi juga untuk seluruh pecinta bulu tangkis. Sosoknya akan selalu diingat sebagai panutan dan dorongan untuk generasi muda. Dengan semua kontribusinya, baik sebagai atlet maupun pelatih, warisan yang ditinggalkan oleh IIE akan terus hidup di dunia bulutangkis Indonesia.

Dengan begitu banyak pencapaian dan pengaruh yang diberikannya, Iie Sumirat akan tetap menjadi bagian penting dari sejarah bulu tangkis di Indonesia. Meskipun mereka telah meninggal, antusiasme dan langkah kaki mereka akan selalu memandu generasi masa depan dalam mengejar prestasi di arena bulutangkis dan olahraga lainnya.



Contoh Soal

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *