Majas Pleonasme – Pengertian, Penyebab Kemunculannya, Contoh Kalimat
6 mins read

Majas Pleonasme – Pengertian, Penyebab Kemunculannya, Contoh Kalimat


Di rumah Pleonasme – Majas merupakan salah satu gaya bahasa yang materinya umumnya sering diajarkan di sekolah-sekolah mulai dari tingkat SD, SMP, SMA bahkan perguruan tinggi yaitu pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Salah satu bentuk yang termasuk jenis majas adalah majas pleonasme.

Di rumah Pleonasme

Nah pada kesempatan kali ini saya akan membahas materi beserta hal-hal terkait. Jadi mari kita lebih fokus membaca penjelasan detailnya di bawah ini:

Memahami

Pleonasme merupakan ekspresi gaya linguistik dengan menambahkan informasi pada suatu pernyataan yang mempunyai maksud dan tujuan yang sangat jelas dalam konteksnya. Penambahan ini dilakukan untuk mempertegas suatu pemikiran atau gagasan dalam suatu kalimat sehingga majas ini tergolong dalam majas afirmasi.

Pleonasme ini merupakan suatu ciri yang berlebihan, dimana jika seseorang menggunakan dua kata yang berbeda namun mempunyai arti yang sama, padahal tidak diperlukan tambahan tambahan baik untuk penekanan maupun sekedar gaya maka itulah pleonasme.

Penyebab Kemunculan

Setelah mengetahui apa itu majas pleonastik, berikut enam penyebab munculnya (serta ciri atau ciri) kalimat pleonastik:

1. Dalam satu frase terdapat dua kata atau lebih yang bersinonim (padanan)

Contoh:

  • Mulai dari kecil dia nakal.
  • Demi kekasihnya, dia akan melakukan apa saja

Artinya:

  • Pada kalimat pertama di atas “mulai” mempunyai arti yang sama dengan “dari”. Dengan begitu, kalimat (a) seharusnya hanya diucapkan: Dari kecil dia nakal atau Sejak kecil dia nakal.
  • Pada kalimat kedua, “untuk” memiliki arti yang sama dengan “untuk”. Dengan demikian, kalimat (b) harus diucapkan: Demi kekasihnya, dia akan melakukan apa saja atau Demi kekasihnya, dia akan melakukan apa saja.

2. Bentuk jamak dinyatakan dua kali

Contoh :

  • Saya telah membaca semua buku ini.
  • Para pelajar mengikuti upacara bendera.

Artinya:

  • Kata semua sudah mengandung banyak arti. Sesuai kaidah bahasa Indonesia, semua benda setelah kata tidak perlu berbentuk jamak. Jadi kalimat (a) secara sederhana dapat dikatakan: Saya telah membaca semua buku ini atau saya telah membaca buku-buku itu.
  • Kata para sudah mengandung banyak arti. Jadi kalimat (b) dapat dikatakan : Para pelajar mengikuti upacara bendera atau Para pelajar mengikuti upacara bendera

3. Arti suatu kata sudah terdapat pada kata lain yang membentuk frasa tersebut.

Contoh:

  • Andi turun ke bawah.
  • Nani naik ke atas.

Artinya:

  • Kata turun juga mempunyai arti yang sama dengan turun. Jadi kalimat (a) dapat dikatakan: Andi turun atau Andi turun
  • Kata “naik” juga mempunyai arti yang sama dengan naik. Jadi kalimat (b) dapat dikatakan: Nani naik atau Nani naik.

4. Penanda jamak diikuti dengan kata benda jamak

Contoh:

  • Berbagai macam buah-buahan dijual di pasar.
  • Berbagai jenis sayuran ditanam di sawah.

Artinya:

  • Kata “berbagai” mempunyai arti yang sama dengan “lain-lain”. Oleh karena itu, dalam sebuah kalimat cukup menggunakan satu saja. Oleh karena itu kalimat (a) dapat dikatakan: Aneka buah-buahan dijual di pasar, atau Aneka buah-buahan dijual di pasar.
  • Demikian pula, “berbagai” artinya sama persis dengan “banyak jenis”. Oleh karena itu, dalam sebuah kalimat cukup menggunakan salah satunya saja. Jadi kalimat (b) secara sederhana dapat dikatakan: Aneka sayuran ditanam di sawah atau berbagai jenis sayuran ditanam di sawah.

5. Salah satu unsur singkatan telah disebutkan secara lengkap

Contoh:

  • Square Bali FC memenangkan pertandingan.
  • Persatuan Partai Golkar memenangkan pemilu.

Artinya:

  • Akronim “Kotak” merupakan singkatan dari Persatuan Sepak Bola Gianyar. Namun di sisi lain, “FC” adalah singkatan dari football club yang artinya asosiasi sepak bola. Jadi ada dua frase identik yang menggunakan frase yang lebih besar.
  • Akronim “Golkar” merupakan singkatan dari kelompok kerja partai, sedangkan kata kelompok identik dengan “majelis” atau “partai”. Jadi ada tiga frase yang sama dalam kalimat tersebut digunakan frase yang mungkin lebih besar.

6. Hiponim

Contoh:

  • Mereka memelihara berbagai jenis burung, seperti burung beo, burung kenari, dan burung cucak rowo.
  • Ayah saya menanam berbagai sayuran, seperti bayam, wortel, dan kangkung.

Artinya:

  • Kata nuri, kenari, dan cucak rowo merupakan hiponim dari jenis-jenis burung. Jadi kalimat pertama cukup berbunyi: Mereka memelihara berbagai jenis burung seperti kakatua, kenari, dan cucak rowo.
  • Kata bayam, wortel, dan kangkung merupakan hiponim dari jenis sayuran. Jadi kalimat kedua secara sederhana dapat diucapkan: Ayah menanam berbagai sayuran, seperti bayam, wortel, dan kangkung.

Contoh kalimat

Bagian 1:

  1. Pengemudi menepikan kendaraannya karena ada masalah pada mesin.
  2. Anak-anak mengangkat kepala untuk melihat pesawat lewat.
  3. Nurwanto tidak menyadari aku ada di sampingnya hingga dia menoleh ke samping.
  4. Pengemis itu mengangkat tangannya ke arah semua pejalan kaki yang berpapasan dengannya.
  5. Sejak kecil Novan sudah menyukai permainan sepak bola.
  6. Menara kota menjulang tinggi ke langit.
  7. Pesawat tiba-tiba terjatuh rendah dari posisi semula.
  8. Suasana malam ini sepi seperti biasanya.
  9. Rita senang melihat ayahnya kembali dari Jakarta.
  10. Kami akan pergi menemui paman di desa lusa.
  11. Saya menyaksikan kejadian itu dengan mata kepala saya sendiri.
  12. Seluruh siswa SMAN 1 Jakarta Timur mengikuti upacara bendera di halaman sekolah.
  13. Bapak-bapak sekalian melakukan pengabdian kepada masyarakat untuk membangun kawasan patroli.
  14. Kapal tersebut menangkap ratusan jenis ikan hanya dengan satu kali jaring.

Bagian 2:

  1. Sepuluh lusin jenis burung diternakkan di kebun binatang ini.
  2. Bibi datang dari desa membawa berbagai macam buah-buahan.
  3. Ayah saya memelihara hewan berkaki empat seperti sapi, kambing, dan kerbau.
  4. Pak Ahong menjual barang-barang elektronik seperti laptop, televisi, radio, mesin cuci, dll.
  5. Saya mengunjungi tempat wisata di Bali seperti Tanah Lot, Pantai Kuta, Sanur, dan masih banyak lagi.
  6. Saat badan saya tenggelam saat kecelakaan laut yang saya alami kemarin, saya justru menelan air laut yang asin begitu banyak hingga lidah saya terasa kebas.
  7. Tubuhnya terjatuh ke dalam lubang saat sepeda motornya tersandung batu besar dengan kecepatan tinggi.
  8. Tadi malam aku bermimpi berada di sebuah negeri yang tertutup salju putih.
  9. Kami hanyalah keluarga miskin yang tidak mempunyai apa-apa.
  10. Ayah suka mencampurkan madu manis ke dalam jamunya.
  11. Gadis cantik ini adalah saudara perempuan temanku.
  12. Joni buru-buru memanjat pohon saat dikejar anjing.
  13. Adikku selama ini duduk manis di depan layar televisi.
  14. Bibi banyak membeli kebaya wanita di toko temannya.

Demikian pembahasan artikel kali ini, semoga bermanfaat dan memberikan pengetahuan baru bagi pembaca.

Baca juga artikel majas terkait lainnya:



Contoh Soal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *